Sungguh keliru, jika mengaku Muslim masih salah
dalam menentukuan tujuan dan arah hidup.
Apalagi secara lalai, abai, atau bahkan sengaja
mengesampingkan aspek iman-taqwa dan lebih
memprioritaskan aspek lain yang sifatnya
kenikmatan-kenikmatan semu.
Kenikmatan Semu
Kenikmatan-kenikmatan jasadiah (semu)
sesungguhnya bukanlah sumber kebahagiaan
sebagaimana anggapan kebanyakan manusia baik
dari zaman Nabi Adam hingga kelak di masa
akhir zaman.
Anggapan itu muncul tidak lain karena manusia
lebih mengedepankan kekuatan indera
(pragmatisme) dan menafikan kekuatan mata
hati (batin)
Bagi mereka kebahagiaan itu adalah
melimpahnya harta, tingginya kekuasaan, dan
banyaknya wanita yang berada dalam
kehidupannya. Mereka sama sekali tidak mampu
melihat realita di balik indera. Baginya hidup ini
adalah dunia dan tidak ada kehidupan setelah
dunia ini. Allah mengkategorikan orang-orang
seperti itu sebagai orang kafir.
Secara bahasa, makna kafir atau kufur berarti
kafara yang artinya ‘tertutup’ atau terhapus.
Sedang yang dimaksudkan dengan orang kafir
adalah orang yang tertutup mata hatinya dari
kemampuannya untuk melihat hakikat kebenaran
dan karena itu akan selalu sesat dalam melihat
arti kebahagiaan.
Ketika mata hati seorang manusia tertutup maka
akal sehatnya, batinnya, dan perasaannya tidak
akan berfungsi dengan baik. Inilah yang
menyebabkan mengapa banyak orang berani
melawan kebenaran dari Allah Subhanahu
Wata’ala. Jiwa raganya telah diselimuti oleh
kekuatan setan yang pasti akan selalu berbuat
keruasakan dan kesesatan.
ﻭَﺇِﺧْﻮَﺍﻧُﻬُﻢْ ﻳَﻤُﺪُّﻭﻧَﻬُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻐَﻲِّ ﺛُﻢَّ ﻻَ ﻳُﻘْﺼِﺮُﻭﻥَ
“Mereka yang selalu menyesatkan manusia dari
jalan kebenaran ini ada dua yaitu orang yang
kafir dan orang yang fasik. Seperti dalam
firman-Nya, “Dan teman-teman mereka (orang-
orang kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan
dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-
hentinya (menyesatkan).” … (QS.7 Al-A’raf :
202)
Bagi orang yang demikian itu, dan biasanya
kelompok ini selalu ada di setiap zaman,
keimanan bukanlah hal penting. Bagi mereka
kebahagiaan sama seperti anggapan kebahagiaan
yang dimiliki oleh Fir’aun, Namrudz, Qarun, dan
Tsa’labah memandang kebahagiaan. ..
Na’udzubillahi min dzalik.
|
Jaga iman dan sempurnakan
Setiap Muslim berkewajiban untuk menjaga
keimanannya dan ketaqwaannya kepada Allah
Subhanahu Wata’ala agar mata hati, akal sehat,
dan perasaannya tetap berada diliputi oleh
cahaya kebenaran dari Allah SWT, sehingga
terhindar dari mengikuti langkah-langkah setan.
Mengenai hal ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
Wassalam senantiasa mengajarkan umatnya
untuk berupaya semaksimal mungkin
menyempurnakan imannya setiap saat, dimana
dan kapan pun juga. Oleh karena itu tidak
semestinya seorang Muslim memprioritaskan hal
lain selain sempurnanya iman dalam jiwa dan
raga secara terus-menerus sepanjang hidup.
Menjaga iman apalagi menyempurnakannya
bukanlah perkara mudah namun juga tidak berarti
tidak bisa diupayakan. Hanya ada satu syarat
seorang Muslim bisa menyempurnakan iman
dengan sebaik-baiknya, yaitu menjadi Muslim
secara kaffah.
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍْ ﺍﺩْﺧُﻠُﻮﺍْ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴِّﻠْﻢِ ﻛَﺂﻓَّﺔً ﻭَﻻَ ﺗَﺘَّﺒِﻌُﻮﺍْ
ﺧُﻄُﻮَﺍﺕِ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﺇِﻧَّﻪُ ﻟَﻜُﻢْ ﻋَﺪُﻭٌّ ﻣُّﺒِﻴﻦٌ
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu
ke dalam Islam secara keseluruhan, dan
janganlah kamu turut langkah-langkah setan.
Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata
bagimu. ” … (QS.2 Al-Baqarah : 208)
Muslim kaffah ialah Muslim yang senantiasa
mengikuti Rasulullah dalam segala hal dalam
kehidupannya. Hal itu tergambar dalam beberapa
ayat Al-Qur’an.
Satu di antaranya adalah;
‘Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar)
mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah
mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.”
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
… (QS.3 Ali Imran : 31)
Hal inilah yang mendorong Umar bin Khaththab
selalu gelisah dengan kondisi rakyatnya. Oleh
karena itu dia mengharamkan kemewahan bagi
diri dan keluarganya. Selain itu Umar merelakan
seluruh hidupnya demi kebahagiaan seluruh
rakyatnya yang menjadi amanah tertinggi baginya
sebagai seorang pemimpin.
Kerusuhan, kericuhan, dan kesemrawutan yang
terjadi hari ini boleh jadi dikarenakan sudah
sangat banyak orang yang meninggalkan ajaran
Islam. Dalam hal apapun; memimpin, berdagang,
belajar, bekerja, hidup dll.
|
Kesempurnaan Iman
Dunia ini akan tetap aman dan tentram manakala
semua elemen masyarakat, bangsa dan negara
mampu memperagakan nilai-nilai Islam secara
kaffah dalam kehidupan sehari-hari.
Seorang Muslim yang baik (imannya) adalah
Muslim yang benar-benar mengikuti risalah
Rasulullah. Di antaranya adalah senantiasa
berkata baik atau diam, menghormati tetangga,
dan memuliakan tamu.
Dari Abu Hurairah ra., sesungguhnya Rasulullah
Saw. bersabda,
”Siapa yang beriman kepada Allah dan hari
akhir hendaklah dia berkata baik atau diam,
siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir
hendaklah dia menghormati tetangganya dan
barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari
akhir maka hendaklah dia memuliakan
tamunya.”
(HR. Bukhori – Muslim)
Satu contoh kecil. Sekarang tidak jarang orang
terjebak oleh suasana hati yang kurang bersih,
sehingga banyak juga di antara umat Islam yang
perkataannya sering melukai perasaan saudara
sesama Muslim.
Belum lagi akhlaq dan amalan-amalan mulia
Islam yang banyak ditinggalkan. Menerima tamu,
menghormati tetangga, bekerja, mengurus
keluarga (termasuk suami/istri dan anak),
mendidik yang benar, yang kesemuanya menuju
satu kesempurnaan iman.
Contoh lain. Tak sedikit gadis-gadis Islam tergila-
gila pria hanya karena ia ganteng dan cakep.
Bukan karena agamanya. Akibatnya, setelah
setahun dua tahun menikah, ujungnya tak lain
perceraian belaka.
Tak sedikit orangtua depresi di hari tua, karena
anak-anak yang mereka lahirkan dan diidam-
idamkan, akhirnya tidak memiliki kecintaan dan
rasa sayang padanya. Di kala anaknya sudah
sukses dan makmur, mereka jarang datang
menjenguknya, kecuali hanya kiriman uangnya
tiap bulan.
“Di saat saya sakit dan menderita,
mengjengukpun tidak pernah. Ia hanya
mengirimkan uang saja.”
Sesungguhnya tak ada yang salah. Ketika
orangtua mengajarkan dan mendidik anak-anak
mereka dengan sentuhan finansial semata, di
kala besar, pendekatan mereka juga finansial dan
uang.
Mungkin jika ditanya, anak-anak itu bisa berkata.
“Dulu semua dihitung dengan uang. Kini, ketika
saya sukses, telah aku kembalikan uangnya
secara perlahan-lahan.”
Banyak orangtua salah mendidik anaknya.
Padahal, aset berharga sebagai bekal hidup di
dunia fana adalah amal jariyah dan anak yang
sholeh.
”Jika anak Adam meninggal, maka amalnya
terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah
jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak
shaleh yang berdoa kepadanya.” … (HR. Muslim)
Itulah sesungguh-sungguhnya aset berharga para
orangtua untuk bekal ke aherat. Akhirnya, marilah
kita kembalikan semuanya pada al-Quran dan
Sunnah (tuntunan Rasulullah), semata-mata agar
kita mendapatkan kemulian dan kesempurnaan
iman. */Imam Nawawi
|
99 Langkah Menuju Kesempurnaan Iman
01. Bersyukur apabila mendapat nikmat;
02. Sabar apabila mendapat kesulitan;
03. Tawakal apabila mempunyai rencana/
program;
04. Ikhlas dalam segala amal perbuatan;
05. Jangan membiarkan hati larut dalam
kesedihan;
06. Jangan menyesal atas sesuatu kegagalan;
07. Jangan putus asa dalam menghadapi
kesulitan;
08. Jangan usil dengan kekayaan orang;
09. Jangan hasad dan iri atas kesuksessan
orang;
10. Jangan sombong kalau memperoleh
kesuksessan;
11. Jangan tamak kepada harta;
12. Jangan terlalu ambitious akan sesuatu
kedudukan;
13. Jangan hancur karena kezaliman;
14. Jangan goyah karena fitnah;
15. Jangan berkeinginan terlalu tinggi yang
melebihi kemampuan diri.
16. Jangan campuri harta dengan harta yang
haram;
17. Jangan sakiti ayah dan ibu;
18. Jangan usir orang yang meminta-minta;
19. Jangan sakiti anak yatim;
20. Jauhkan diri dari dosa-dosa yang besar;
21. Jangan membiasakan diri melakukan dosa-
dosa kecil;
22. Banyak berkunjung ke rumah Allah (masjid);
23. Lakukan shalat dengan ikhlas dan khusyu;
24. Lakukan shalat fardhu di awal waktu,
berjamaah di masjid;
25. Biasakan shalat malam;
26. Perbanyak dzikir dan do’a kepada Allah;
27. Lakukan puasa wajib dan puasa sunat;
28. Sayangi dan santuni fakir miskin;
29. Jangan ada rasa takut kecuali hanya kepada
Allah;
30. Jangan marah berlebih-lebihan;
31. Cintailah seseorang dengan tidak berlebih-
lebihan;
32. Bersatulah karena Allah dan berpisahlah
karena Allah;
33. Berlatihlah konsentrasi pikiran;
34. Penuhi janji apabila telah diikrarkan dan
mintalah maaf apabila karena sesuatu sebab
tidak dapat dipenuhi;
35. Jangan mempunyai musuh, kecuali dengan
iblis/syaitan;
36. Jangan percaya ramalan manusia;
37. Jangan terlampau takut miskin;
38. Hormatilah setiap orang;
39. Jangan terlampau takut kepada manusia;
40. Jangan sombong, takabur dan besar kepala;
41. Berlakulah adil dalam segala urusan;
42. Biasakan istighfar dan taubat kepada Allah;
44. Hiasi rumah dengan bacaan Al-Quran;
45. Perbanyak silaturrahim;
46. Tutup aurat sesuai dengan petunjuk Islam;
47. Bicaralah secukupnya;
48. Beristeri/bersuami kalau sudah siap segala-
galanya;
49. Hargai waktu, disiplin waktu dan manfaatkan
waktu;
50. Biasakan hidup bersih, tertib dan teratur;
51. Jauhkan diri dari penyakit-penyakit bathin;
52. Sediakan waktu untuk santai dengan
keluarga;
53. Makanlah secukupnya tidak kekurangan dan
tidak berlebihan;
54. Hormatilah kepada guru dan ulama;
55. Sering-sering bershalawat kepada nabi;
56. Cintai keluarga Nabi saw;
57. Jangan terlalu banyak hutang;
58. Jangan terlampau mudah berjanji;
59. Selalu ingat akan saat kematian dan sedar
bahawa kehidupan dunia adalah kehidupan
sementara;
60. Jauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang
tidak bermanfaat seperti mengobrol yang tidak
berguna;
61. Bergaul lah dengan orang-orang soleh;
62. Sering bangun di penghujung malam, berdoa
dan beristighfar;
63. Lakukan ibadah haji dan umrah apabila sudah
mampu;
64. Maafkan orang lain yang berbuat salah
kepada kita;
65. Jangan dendam dan jangan ada keinginan
membalas kejahatan dengan kejahatan lagi;
66. Jangan membenci seseorang karena
pahaman dan pendiriannya;
67. Jangan benci kepada orang yang membenci
kita;
68. Berlatih untuk berterus terang dalam
menentukan sesuatu pilihan
69. Ringankan beban orang lain dan tolonglah
mereka yang mendapatkan kesulitan.
70. Jangan melukai hati orang lain;
71. Jangan membiasakan berkata dusta;
72. Berlakulah adil, walaupun kita sendiri akan
mendapatkan kerugian;
73. Jagalah amanah dengan penuh tanggung
jawab;
74. Laksanakan segala tugas dengan penuh
keikhlasan dan kesungguhan;
75. Hormati orang lain yang lebih tua dari kita
76. Jangan membuka aib orang lain;
77. Lihatlah orang yang lebih miskin daripada
kita, lihat pula orang yang lebih berprestasi dari
kita;
78. Ambilah pelajaran dari pengalaman orang-
orang arif dan bijaksana;
79. Sediakan waktu untuk merenung apa-apa
yang sudah dilakukan;
80. Jangan sedih karena miskin dan jangan
sombong karena kaya;
81. Jadilah manusia yang selalu bermanfaat
untuk agama,bangsa dan negara;
82. Kenali kekurangan diri dan kenali pula
kelebihan orang lain;
83. Jangan membuat orang lain menderita dan
sengsara;
84. Berkatalah yang baik-baik atau tidak berkata
apa-apa;
85. Hargai prestasi dan pemberian orang;
86. Jangan habiskan waktu untuk sekedar
hiburan dan kesenangan;
87. Akrablah dengan setiap orang, walaupun yang
bersangkutan tidak menyenangkan.
88. Sediakan waktu untuk berolahraga yang
sesuai dengan norma-norma agama dan kondisi
diri kita;
89. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan
fisikal atau mental kita menjadi terganggu;
90. Ikutilah nasihat orang-orang yang arif dan
bijaksana;
91. Pandai-pandailah untuk melupakan kesalahan
orang dan pandai-pandailah untuk melupakan
jasa kita;
92. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan
orang lain terganggu dan jangan berkata sesuatu
yang dapat menyebabkan orang lain terhina;
93. Jangan cepat percaya kepada berita jelek
yang menyangkut teman kita sebelum dipastikan
kebenarannya;
94. Jangan menunda-nunda pelaksanaan tugas
dan kewajiban;
95. Sambutlah huluran tangan setiap orang
dengan penuh keakraban dan keramahan dan
tidak berlebihan;
96. Jangan memforsir diri untuk melakukan
sesuatu yang diluar kemampuan diri;
97. Waspadalah akan setiap ujian, cobaan,
godaan dan tentangan. Jangan lari dari
kenyataan kehidupan;
98. Yakinlah bahwa setiap kebajikan akan
melahirkan kebaikan dan setiap kejahatan akan
melahirkan merusakan;
99. Jangan sukses di atas penderitaan orang dan
jangan kaya dengan memiskinkan orang
|
“Sebarkanlah walau satu ayat pun” … (Sabda
Rasulullah SAW)
“Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-
amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-
dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan
Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah
mendapat kemenangan yang besar.” … ( Surah
Al-Ahzab :71)
|
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
SEMOGA BERMANFA’AT – ALHAMDULILLAH
Kamis, 18 Desember 2014
Langkah menuju kesempurnaan iman
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar